jpnn.com, JAKARTA - Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar menilai batu bara kembali naik daun ketika konflik geopolitik mengganggu pasokan minyak dan gas.
Menurut Bisman, batu bara adalah sumber energi yang relatif stabil dan mudah diakses oleh banyak negara.
“Cadangan batu bara tersebar luas dan tidak terlalu terkonsentrasi di kawasan konflik. Jadi, aman tidak terlalu terpengaruh panasnya geopolitik,” kata Bisman dalam keterangannya pada Jumat (13/3) malam.
“Dalam situasi krisis, batu bara sering berfungsi sebagai penyangga pasokan energi primer,” lanjutnya.
Sementara itu, pengamat energi Iwa Garniwa menuturkan sejumlah negara kembali meningkatkan penggunaan batu bara ketika terjadi gangguan pasokan energi global atau lonjakan harga minyak dan gas.
“China misalnya, meningkatkan impor batu bara sebesar 500 juta ton pada 2024 untuk mengamankan pasokan energi domestik,” kata Iwa.
Hal ini bisa menjadi angin segar bagi Indonesia lantaran posisinya yang strategis sebagai eksportir batu bara global.
Berdasarkan data capaian kinerja Kementerian ESDM Tahun 2025, dari total 1,3 miliar ton batu bara yang diperdagangkan secara global, Indonesia memasok sekitar 514 juta ton atau sekitar 43 persen.

3 hours ago
3





















































