Sistem Pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dari Masa ke Masa

4 hours ago 1

Oleh: Dr. H. A. Effendy Choirie, M.Ag., M.H - Ketua Umum DNIKS, Anggota DPR/MPR RI 1999–2013

Sistem Pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dari Masa ke Masa

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia Untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) & Anggota DPR/MPR RI 1999–2013 Ahmad Effendy Choirie. Foto: Source for JPNN.com

jpnn.com - Pendahuluan.

Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama memiliki tradisi kepemimpinan yang unik dan berbeda dengan organisasi kemasyarakatan maupun partai politik.

Dalam struktur NU terdapat dua poros kepemimpinan yang saling melengkapi, yaitu Syuriyah yang dipimpin oleh Rais Aam, dan Tanfidziyah yang dipimpin oleh Ketua Umum PBNU.

Rais Aam berfungsi sebagai pemimpin tertinggi dalam bidang keagamaan, penjaga manhaj, muruaha, khittah, dan arah keagamaan NU.

Sementara Ketua Umum PBNU bertugas menjalankan roda organisasi, mengelola program, administrasi, dan hubungan kelembagaan.

Oleh karena itu, sistem pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU selalu menjadi perhatian warga Nahdliyin.

Menariknya, mekanisme pemilihan keduanya mengalami perubahan dari masa ke masa sesuai kebutuhan organisasi dan dinamika zaman.

Era Pendiri: Kepemimpinan Berbasis Kharisma Ulama

Nahdlatul Ulama memiliki tradisi kepemimpinan yang unik dan berbeda dengan organisasi kemasyarakatan maupun partai politik.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
Koran JPP|