jpnn.com, PALEMBANG - Industri angkutan penyebrangan nasional kini berada di titik kritis.
Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyebrangan (GAPASDAP) melaporkan pembengkakan biaya operasional yang masif akibat kombinasi pelemahan rupiah dan tingginya harga minyak dunia.
Seperti diketahui, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin melemah 57 poin atau 0,33 persen menjadi Rp 17.394 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.337 per USD.
Keterpurukan mata uang ini berdampak langsung pada biaya pemeliharaan kapal, pengadaan suku, cadang, dan pemenuhan kewajiban finansial lainnya yang berbasis valuta asing.
Kondisi ini diperparah dengan harga minyak mentah dunia yang masih bertengger kokoh di atas USD 107 per barel. Tingginya harga tersebut ikut memberi tekanan terhadap biaya operasional kapal secara keseluruhan.
Ketua Umum DPP Gapasdap Khoiri Soetomo menerangkan, bagi pengusaha angkutan penyeberangan yang tergabung dalam GAPASDAP, keadaan ini semakin menyulitkan.
Sebab, biaya-biaya terus bergerak naik, sementara pendapatan perusahaan relatif tidak berubah karena tarif angkutan penyeberangan hingga saat ini belum juga disesuaikan.
"Pelemahan rupiah sangat terasa dampaknya terhadap biaya perawatan kapal. Hampir seluruh komponen suku cadang kapal dipengaruhi oleh kurs USD," terang Khoiri, Senin (4/5/2026).

2 days ago
4




















































