Papua, Pasifik, dan Ketahanan Adat

7 hours ago 1

Oleh: Laurens Ikinia - Peneliti di Institute of Pacific Studies dan Dosen Hubungan Internasional UKI, Jakarta

Papua, Pasifik, dan Ketahanan Adat

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Peneliti di Institute of Pacific Studies dan Dosen Hubungan Internasional UKI, Jakarta Laurens Ikinia. Foto: Source for JPNN.com

jpnn.com - Kepulauan Pasifik selama ini kerap digambarkan sebagai kawasan paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Naiknya permukaan air laut, badai tropis yang kian intens, dan kekeringan panjang diprediksi bakal memicu gelombang konflik sosial-politik.

Namun, sebuah studi terkini justru menemukan fakta sebaliknya: tak ada korelasi signifikan antara bencana iklim dan eskalasi konflik di negara-negara seperti Fiji, Kepulauan Solomon, dan Vanuatu.

Temuan ini membuka ruang diskusi baru, tak hanya bagi kawasan Pasifik, tetapi juga relevan untuk konteks Indonesia, khususnya wilayah pesisir dan Kepulauan Papua yang memiliki kemiripan geografis dan kerentanan ekologis.

Dalam kajian hubungan internasional, kawasan Pasifik sering direduksi menjadi sekadar panggung persaingan kekuatan besar, terutama antara blok Barat dan China.

Narasi yang berkembang cenderung mengabaikan kapasitas lokal dan memperlakukan negara-negara kepulauan ini sebagai aktor pasif yang hanya bisa menerima dampak tanpa daya merespons.

Padahal, studi yang dilakukan Tobias Ide, Ore Koren, dan Luke Derrick dalam Climate-Related Disasters and Temperature Extremes Are Not Associated With Conflict Risk in Pacific Island Countries (2026) menemukan fakta sebaliknya: komunitas lokal di tiga negara Pasifik memiliki sistem ketahanan yang mumpuni.

Di Vanuatu, misalnya, setelah Topan Pam menerjang pada 2015, koordinasi antara struktur komunitas adat dan komite perubahan iklim berbasis masyarakat mampu menekan angka korban jiwa sekaligus mempercepat pemulihan.

Kepulauan Pasifik selama ini kerap digambarkan sebagai kawasan paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
Koran JPP|