jpnn.com, JAKARTA - Industri migas Indonesia berada di titik kritis. Ketergantungan pada impor pipa dan peralatan strategis, keterbatasan teknologi, serta lemahnya basis industri domestik dinilai menghambat Indonesia untuk naik kelas di rantai nilai global.
Untuk mendukung perkembangan industri penunjang migas nasional, khususnya manufaktur pipa seamless, yang memiliki komitmen tinggi terhadap pencapaian TKDN, Sekjen IAFMI Gede Pramona didampingi pengurus lainnya telah melakukan Factory Visit ke fasilitas produksi pipa Indonesia Seamless Tube (IST) - PT Artas Energi Petrogas di kawasan Industri Krakatau Steel, Cilegon.
Pada kesempatan yang sama Chairman Komunitas Migas Indonesia (KMI), S Herry Putranto ikut hadir untuk memberikan support dan membuka ruang diskusi bersama IAFMI membangun strategi meningkatkan daya saing pipa seamless produksi dalam negeri yang saat ini memiliki kemampuan TKDN 46% agar dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Dari diskusi terbatas di Cilegon ini, disuarakan urgensi transformasi dari resource extraction menuju industrial capability sebagai satu-satunya jalan untuk keluar dari jebakan ekonomi berbasis komoditas.
Chief Commercial Officer PT Artas Energi Petrogas Hendrik Kawilarang Luntungan menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa terus menjadi pasar bagi industri global.
"Kita harus menjadi produsen, pemilik teknologi, dan pengendali rantai pasok. Jika tidak sekarang, kita akan terus tertinggal," ujar dia.
PT Artas Energi Petrogas saat ini telah membuktikan kapabilitas tersebut.
Sebagai satu-satunya produsen seamless tube di Indonesia, IST telah berkontribusi menyumbang devisa negara hingga Rp 15 triliun melalui substitusi impor dan ekspor ke pasar Asia–Timur Tengah.

3 hours ago
4




















































