jpnn.com, JAKARTA - Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, sebanyak 3,6 juta anak Indonesia mengalami kelainan refraksi miopia, dan jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius, mengingat pertambahan ukuran minus pada masa anak-anak dapat berlanjut seiring pertumbuhan dan berisiko memicu komplikasi mata di kemudian hari.
"Jumlah tersebut diperkirakan terus meningkat, terutama pada anak usia sekolah," kata Ketua Seminar Indonesian Refraction and Vision Optimization Society (INARVOS), dr. Susanti Natalya Sirait. Sp.M (K). M.Kes, Minggu (3/5).
Menurutnya, pertambahan ukuran minus pada anak dapat terus terjadi selama masa pertumbuhan. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat meningkatkan risiko komplikasi, seperti kelainan retina, glaukoma, hingga katarak.
“Berdasarkan penelitian Brien Holden, pada 2050 prevalensi miopia diperkirakan mencapai 50 persen dari populasi dunia. Lensa Ortho-K dapat menjadi salah satu pilihan bagi pasien miopia, selain berbagai terapi lainnya,” jelasnya.
Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam seminar bertajuk Unlocking Orthokeratology yang digelar Menicon Indonesia bersama Persatuan Dokter Mata Indonesia (PERDAMI), dalam rangka memperingati 75 tahun Menicon Group.
Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama PERDAMI Cabang Bali, INARVOS (Indonesian Refraction and Vision Optimization Society), serta PT Berjaya Mandirin Opto-Medic.
Seminar yang berlangsung di Nuanu Creative City, Bali, ini diikuti sekitar 40 dokter spesialis mata dari berbagai kota di Indonesia. Hadir juga dalam seminar ini Ketua PERDAMI Daerah Bali, dr. Cokorda Istri Dewiyani Pemayun, Sp.M(K).

6 hours ago
3




















































