jpnn.com, JAKARTA - Di dalam rumah, fisik anak dan orang tua mungkin saling berdekatan. Namun, di balik layar gawai yang berpijar, ada jarak transparan yang makin melebar antara mereka.
Kondisi itulah yang kini menjadi potret buram remaja di era digital.
Mereka lebih mudah curhat dan mencari pembenaran di media sosial, ketimbang berbincang hangat dengan keluarga di sampingnya.
Fenomena itu disorot tajam oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Tangerang Selatan, TB Asep Nurdin.
Menurutnya, ketergantungan pada gawai telah mengikis komunikasi tatap muka, sekaligus menggantinya dengan interaksi maya yang rentan hampa makna.
Dampaknya tak main-main. Tanpa literasi digital yang matang dan kontrol emosi, tekanan di media sosial memicu stres, kecemasan berlebih, hingga meretakkan ketahanan mental.
Risiko salah pergaulan pun mengintai saat mereka mencari pelarian di tempat yang salah.
"Nah, anak-anak sekalian, kesehatan mental ini sangat berpengaruh untuk masa depan kalian dan ini harus dijaga banget," ujar Asep dalam keterangannya, Jumat (27/8).

4 hours ago
1
















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5565946/original/060695200_1777098813-lemos.jpg)




