Dosen FK Menjelaskan Perubahan pada Tubuh saat Berpuasa Ramadan

2 hours ago 2

Dosen FK Menjelaskan Perubahan pada Tubuh saat Berpuasa Ramadan

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Penjual takjil untuk berbuka puasa di bulan Ramadan. Ilustrasi Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - BATAM - Puasa Ramadan selama satu bulan menjadi kesempatan positif bagi setiap orang yang menjalankan untuk meregulasi emosi.

Demikian dikatakan psikiater yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Internasional Batam dr Revit Jayanti S, Sp.K.

“Kenapa Bulan Ramadan itu terasa menenangkan? Karena Ramadan adalah bulan yang penuh berkah dan makna bagi umat Muslim di seluruh dunia,” katanya di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Minggu (15/2).

Dia menjelaskan esensi Ramadan bukan sekadar waktu untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga kesempatan memperdalam ibadah, meningkatkan kualitas diri, serta meraih berbagai keutamaan yang telah ditetapkan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Secara neurologi, kata dia, saat berpuasa, tubuh mengalami beberapa perubahan, yakni gula darah menurun ketika tidak makan beberapa jam, dengan efek mudah lelah dan sensitif secara emosi.

Selain itu, kortisal (hormon stres) bisa meningkat di awal karena perubahan pola tidur dan makan, serta proses autophagy (pembersih sel).

“Puasa membantu proses 'pembersihan' sel, termasuk otak,” ujarnya.

Pembersihan ini, katanya, mendukung perlindungan dan perbaikan sel saraf serta dapat meningkat brain-derived neurothrophic factor (BDNF) yang berperan dalam fungsi kognitif dan regulasi emosi.

Berikut ini penjelasan dosen Fakultas Kedokteran mengenai beberapa perubahan pada tubuh saat sedang berpuasa Ramadhan.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
Koran JPP|