jpnn.com, JAKARTA - Di tengah ricuhnya demonstrasi besar di depan Gedung DPR pada akhir Agustus 2025, suara persatuan disuarakan oleh pemerhati sosial, Raden Dymasius Yusuf Sitepu.
Alumnus National University of Singapore (NUS) dan Nanyang Technological University (NTU) ini menekankan pentingnya semangat warga jaga warga agar energi rakyat tidak terseret pada perpecahan.
Aksi demonstrasi tersebut sebelumnya diikuti ribuan massa dari mahasiswa, pelajar, buruh, hingga pengemudi ojek online.
Mereka menuntut penolakan tunjangan DPR yang dinilai berlebihan hingga seruan pembubaran lembaga legislatif.
Namun, situasi berubah ricuh, menimbulkan empat korban jiwa, puluhan luka, serta kerusakan fasilitas umum.
Melihat kondisi itu, Dymasius mengaku prihatin. Dia menilai aspirasi rakyat harus diarahkan pada perubahan positif, bukan tindakan anarkis.
“Saya mendukung aspirasi perubahan positif rakyat Indonesia. Tetapi saya sedih ketika ada pembakaran mobil, penjarahan, hingga pengkambinghitaman etnis Tionghoa. Mereka juga saudara kita dalam perjuangan hidup sehari-hari,” ujarnya, Sabtu (30/8).
Dymasius mengingatkan bahwa provokasi berbasis etnis merupakan taktik lama divide et impera yang seharusnya tidak lagi mendapat tempat di Indonesia.