jpnn.com, JAKARTA - Anggota DPR Azis Subekti menyebut stabilitas nasional sebenarnya menjadi fondasi utama demokrasi di Indonesia, tetapi kerap disalahpahami sebagai pembatasan kebebasan.
"Tanpa stabilitas, demokrasi justru mudah berubah menjadi keributan yang melelahkan rakyat, melemahkan institusi, dan membuka ruang intervensi kepentingan yang lebih besar dari sekadar politik domestik," kata dia kepada awak media, Jumat (8/5).
Legislator fraksi Gerindra itu merujuk pemikiran Abdul Haris Nasution mengenai pentingnya menjaga negara dari keterpecahan.
Azis mencontohkan negara-negara di Timur Tengah, seperti Libya dan Suriah, mengalami kehancuran ketika demokrasi hadir tanpa stabilitas institusi menjaga integrasi.
Sebaliknya, dia menunjuk negara maju seperti Jepang dan negara-negara Nordik yang berhasil membangun demokrasi di atas fondasi disiplin institusi dan keadilan sosial yang tinggi.
"Demokrasi bukan sekadar kebebasan berbicara. Demokrasi membutuhkan institusi yang kuat, hukum yang dipercaya, birokrasi yang bekerja, aparat negara yang profesional, ekonomi yang relatif stabil, dan kohesi sosial yang dijaga terus-menerus," ujarnya.
Terkait dinamika politik nasional, Azis menyoroti pentingnya pesan persatuan yang sering disampaikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
Mahasiswa Program Doktor Hukum UAI itu menyebutkan persatuan bukan berarti menyeragamkan pikiran, melainkan memastikan kompetisi politik tidak berubah menjadi permusuhan.

1 hour ago
2





















































