Surplus Beras Tidak Menjamin Harga Menjadi Terjangkau

1 hour ago 2

Surplus Beras Tidak Menjamin Harga Menjadi Terjangkau

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Pengamat pertanian Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian mengatakan surplus produksi beras secara nasional tidak menjamin harga di berbagai daerah menjadi terjangkau. Ilustrasi Foto: Elvi R/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat pertanian Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian mengatakan surplus produksi beras secara nasional tidak menjamin harga di berbagai daerah menjadi terjangkau.

Menurut Eliza, ketersediaan beras secara agregat nasional maupun tingginya cadangan beras pemerintah (CBP) belum tentu diikuti pemerataan distribusi hingga ke wilayah terpencil dan pulau-pulau kecil.

“Namun, faktanya harga di tingkat konsumen di wilayah terpencil masih bisa melonjak tajam,” kata Eliza di Jakarta, Senin (24/7).

Eliza mencontohkan sejumlah wilayah terpencil yang masih menghadapi persoalan akses pangan ketika distribusi terganggu.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan harga beras di tingkat konsumen melonjak hingga Rp 25.000-Rp 30.000 per kilogram.

Eliza mengatakan kondisi tersebut menunjukkan ketersediaan beras di tingkat nasional tidak otomatis menjamin komoditas tersebut dapat diakses oleh seluruh masyarakat.

Berdasarkan proyeksi neraca pangan Kementerian Pertanian, produksi beras pada 2026 diperkirakan mencapai 34,77 juta ton, sementara kebutuhan nasional sebesar 31,10 juta ton sehingga terdapat surplus sekitar 3,67 juta ton.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang diakses pada Senin (24/8) menunjukkan rata-rata harga beras kualitas medium I secara nasional tercatat Rp 16.500 per kilogram.

Pengamat pertanian Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian mengatakan surplus produksi beras secara nasional tidak menjamin harga di berbagai daerah

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
Koran JPP|