jpnn.com - Saya satu panggung dengan Ahok kemarin. Di museum suku Hakka di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta.
Ada juga Teuku Azmi Abubakar di situ: tokoh Aceh yang punya pustaka Tionghoa Peranakan di Banten. Ia alumnus teknik sipil Institut Teknologi Indonesia, Tangerang. Ia membangun gedung dua lantai untuk berbagai dokumen, buku, dan artefak Tionghoa Peranakan.

Setiap Agustus suku Hakka memang mengadakan seminar kebangsaan di situ. Kali ini bersama marga Yap Indonesia yang diketuai oleh Haryanto Yap.
Anda sudah tahu: setiap orang Tionghoa punya dua identitas. Identitas suku dan identitas marga. Misalkan Anda suku Hakka, atau Tiuchu, atau Hokkian, Guangshao, Manchu, dan seterusnya.
Di setiap warga suku itu marganya berbeda-beda. Di suku Hakka ada yang bermarga Chen (Tan). Di suku Hokkian juga ada yang bermarga Chen. Semua suku punya semua marga. Semua marga ada di semua suku.
Ketua suku Hakka di Indonesia, Sugeng Prananto adalah juga ketua marga Yap Indonesia. Haryanto tadi ketua hariannya.
Masing-masing suku juga punya lagu resminya sendiri-sendiri. Pun semua marga. Di forum kemarin, setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, diputar juga lagu suku Hakka. Lalu diputar pula lagu ''kebangsaan'' marga Yap. Lain kali kalau penyelenggaranya marga Huang diputar lagu resmi marga Huang –yang di Indonesia ditulis sebagai marga Oei.

6 hours ago
1
.jpeg)













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5565946/original/060695200_1777098813-lemos.jpg)






