jpnn.com, JAKARTA - Skema pembiayaan campuran berupa hibah dan pinjaman lunak dinilai sebagai model realistis, untuk mendukung pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berbasis komunitas di Indonesia.
Model tersebut diproyeksikan mampu menjaga tarif listrik tetap terjangkau bagi masyarakat dan membuka peluang replikasi proyek lebih luas di berbagai wilayah.
Hal tersebut dinilai penting guna mendukung target besar pemerintah dalam pembangunan energi surya nasional yang mencapai 100 Gigawatt (GW).
Temuan itu didasari hasil riset kolaborasi Mosaic, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), dan Purpose, yang dipaparkan dalam diksusi Potensi Keuangan Islam untuk Pendanaan PLTS Berbasis Komunitas.
Program Direktur Mosaic, Aldy Permana menjelaskan penelitian itu berupaya menjawab tantangan tingginya kebutuhan investasi awal.
Kajian dilatarbelakang kebutuhan untuk mencari model pembiayaan yang mampu mendukung target pemerintah, membangun 80 GW PLTS berbasis desa melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Sisanya, sebanyak 20 GW PLTS ditargetkan terintegrasi dengan jaringan listrik nasional.
Aldy juga menyoroti pentingnya memastikan keberlanjutan operasional proyek energi surya berbasis komunitas dalam jangka panjang.

3 hours ago
1





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364450/original/049240400_1759113678-allano.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518117/original/054027000_1772464500-rivera.jpg)









:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518312/original/099191500_1772505014-persebaya.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5349826/original/076247900_1757933049-persija_lesu-2.jpg)