Sangat Emosional, Watchdog Terpikat Penonton Indonesia

5 hours ago 2

Sangat Emosional, Watchdog Terpikat Penonton Indonesia

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Penampilan duo jazz kontemporer, Watchdog, dalam rangkaian Road to The Papandayan Jazz Festival di The Papandayan Hotel, Kota Bandung, Sabtu (1/8/2026) malam. Foto: Nur Fidhiah Shabrina/JPNN.com

jpnn.com, BANDUNG - Bagi duo asal Prancis, Watchdog, musik bukanlah sesuatu yang bisa dikurung dalam kotak-kotak genre.

Watchdog tidak peduli apakah karyanya disebut jazz, klasik, elektronik, atau eksperimental. Yang paling penting adalah bagaimana musik mampu menyampaikan emosi.

Pandangan itu disampaikan Anne Quillier dan Pierre Horckmans saat ditemui sebelum tampil dalam rangkaian Road to The Papandayan Jazz Festival, Sabtu (1/8/2026) malam.

"Kami tidak suka mengotak-ngotakkan musik. Bagi kami, musik adalah bahasa emosional," kata Pierre saat ditemui di The Papandayan Hotel, Kota Bandung.

Latar belakang keduanya memang berbeda. Pierre tumbuh dengan musik klasik, tetapi juga akrab dengan rock, musik elektronik, hingga indie. Anne justru memulai perjalanan musiknya secara otodidak sebelum akhirnya menempuh pendidikan di konservatori.

Perbedaan pengalaman itu justru menjadi kekuatan Watchdog. Mereka leluasa mencampurkan berbagai pengaruh musik tanpa merasa harus memenuhi ekspektasi sebuah genre tertentu.

Meski banyak mengandalkan improvisasi, permainan Watchdog tidak pernah terdengar kehilangan arah. Rahasianya ternyata terletak pada hubungan musikal yang sudah terbangun selama bertahun-tahun.

Pierre mengungkapkan dirinya dan Anne telah bermain bersama lebih dari 15 tahun. Kedekatan itu membuat mereka memahami bahasa musik satu sama lain tanpa harus banyak berkomunikasi.

Duo jazz asal Prancis, Watchdog, percaya musik adalah bahasa emosi. Mereka juga terkesan dengan antusiasme penonton Indonesia.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
Koran JPP|