jpnn.com, JAKARTA - Masih banyak masyarakat kecil yang bekerja keras setiap hari, tetapi belum sepenuhnya mendapatkan kepercayaan untuk berkembang melalui akses pembiayaan formal.
Kondisi tersebut banyak dialami perempuan pengusaha ultra mikro yang hidup dengan penghasilan terbatas dan usaha berskala kecil. Di tengah keterbatasan, mereka tetap berjuang memenuhi kebutuhan keluarga dengan bekerja sejak pagi hingga larut malam.
Namun, kelompok usaha ultra mikro justru kerap menghadapi kesulitan memperoleh akses pembiayaan karena minim aset, jaminan, hingga kemampuan administrasi yang dianggap memenuhi syarat lembaga keuangan formal.
Padahal, bagi pelaku usaha ultra mikro, pembiayaan tanpa jaminan bukan sekadar bantuan modal, tetapi bentuk kepercayaan bahwa mereka mampu berkembang dan memiliki peluang untuk meningkatkan taraf hidup.
Cerita tersebut dirasakan langsung oleh Sri Aryanti Nurafiah, nasabah PNM Mekaar Cikarang Barat. Sebagai ibu rumah tangga, perempuan yang akrab disapa Yanti itu awalnya hanya ingin membantu perekonomian keluarga karena penghasilan suaminya dirasa belum mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Berbekal kemampuan membuat gantungan kunci, Yanti memiliki keinginan membuka usaha kriya. Namun keterbatasan modal sempat membuatnya ragu untuk memulai usaha tersebut.
“Kalau hanya mengandalkan gaji suami saya rasa kurang cukup. Saya ingin membuka usaha kriya-kriya, tapi dengan keterbatasan modal saya bimbang,” ujar Yanti.
Pada 2022, Yanti mulai mendapatkan akses pembiayaan usaha dari PNM. Modal tersebut digunakannya untuk membeli bahan baku dan mengembangkan usaha yang sebelumnya hanya dijalankan sederhana dari rumah.

51 minutes ago
2




















































