jpnn.com, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menilai situasi depresiasi rupiah belakangan ini sangat berbeda dengan kondisi saat krisis tahun 1998 silam.
Sebagai perbandingan historis, pada krisis 98, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS merosot tajam hingga menyentuh kisaran Rp16.000 dari posisi awal di Rp 2.500.
Pelemahan nilai tukar juga sempat terjadi pada periode 2004–2014. Menurutnya rupiah terdepresiasi hingga 40 persen dalam kurun waktu sepuluh tahun.
Kondisi tersebut bahkan memicu lonjakan inflasi hingga mencapai 17 persen pada 2005.
Faktor utamanya saat itu akibat lonjakan harga minyak mentah dunia yang melambung tinggi hingga menyentuh angka 140 dolar AS per barel.
Sementara itu, pada periode berikutnya, yakni 2014–2024, depresiasi rupiah tercatat sebesar 33,6 persen dengan laju inflasi yang jauh lebih terkendali di angka 3 persen.
Airlangga menilai situasi tersebut menunjukkan perbedaan kualitas pengelolaan ekonomi yang signifikan dibanding masa lalu.
Meskipun nilai tukar rupiah terus berfluktuasi, pemerintah saat ini terbukti mampu menjaga tingkat inflasi tetap rendah.

5 hours ago
8













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485697/original/029038600_1769524103-9.jpg)






