jpnn.com, SURABAYA - Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Mediodecci Lustarini menegaskan pelindungan anak di ruang digital tidak bisa lagi hanya dibebankan kepada orang tua.
Terlebih, di tengah derasnya arus teknologi, keterlibatan pemerintah, platform digital, masyarakat, dan keluarga menjadi kunci untukmemastikan anak-anak tetap aman saat beraktivitas di internet.
Hal tersebut disampaikan Mediodecci dalam kegiatan “Bersama PP TUNAS Bijak Digital Anak Terlindungi” yang digelar di Auditorium Bung Tomo, RRI Surabaya, Minggu (7/6).
Menurut Mediodecci, tantangan pengasuhan anak di era digital jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Karena itu, orang tua tidak mungkin berjalan sendiri dalam melindungi anak dari berbagai risiko di ruang digital.
“Membesarkan satu orang anak itu butuh kekuatan satu desa. It takes a village to raise a child. Tapi sekarang itu tidak cukup satu desa, butuh satu bangsa. It takes a nation to raise a child,” ujar Mediodecci.
Dia menegaskan meskipun anak tetap menjadi tanggung jawab utama orang tua, pelindungan anak di ruang digital membutuhkan dukungan ekosistem yang lebih luas.
Pemerintah memiliki peran sebagai regulator, platform digital bertanggung jawab sebagai pemilik infrastruktur, sementara masyarakat perlu hadir memberi pendampingan dan dukungan kepada keluarga.
Mediodecci mengingatkan jejak digital anak saat ini bahkan dapat dimulai sejakmereka lahir. Foto, nama, tanggal lahir, hingga berbagai informasi pribadi kerap dibagikan ke media sosial oleh orang-orang terdekat tanpa disadari dapat menimbulkan risiko di kemudian hari.

4 hours ago
2
















































.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495504/original/079773400_1770373061-Ze_Valente.jpg)

