jpnn.com, JAKARTA - Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) mendorong langkah strategis dan kolektif untuk menghadapi tekanan krisis energi global yang makin meningkat di kawasan Timur Tengah.
Langkah itu direalisasikan lewat Gerakan Nasional Hemat Energi.
Sekretaris Jenderal BPP HIPMI, Dr. Anggawira, mengatakan dinamika geopolitik global akibat perang Iran versus Amerika Serikat-Israel telah mendorong terjadinya lonjakan harga energi dunia.
Menurut dia, kondisi ini berpotensi menekan stabilitas ekonomi nasional, meningkatkan beban subsidi energi, serta memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Sudah saatnya Indonesia memiliki Gerakan Nasional Hemat Energi terstruktur, terukur, dan masif. Ini bukan lagi sekadar imbauan, tetapi harus menjadi strategi nasional dalam menjaga ketahanan ekonomi dan energi kita,” kata Anggawira dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (25/3).
Anggawira menjelaskan sampai hari ini, sejumlah negara telah melakukan berbagai aksi penghematan energi sebagai langkah antisipasi.
Di antaranya dilakukan oleh Presiden Filipina Ferdinand R. Marcos Jr. yang telah resmi mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional guna mengantisipasi gangguan pasokan bahan bakar global pada Selasa (24/3).
Pada hari yang sama, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung juga meluncurkan 12 pedoman penghematan energi bagi warga untuk mengantisipasi krisis energi buntut perang Amerika Serikat-Israel vs Iran.

6 hours ago
6





















































