jpnn.com, JAKARTA - Tragedi tabrakan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, yang menewaskan 15 orang dan melukai 84 lainnya, mendapat sorotan dari Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Muda Kota Bekasi (DPP GMKB).
Ketua Umum DPP GMKB Nicolous Yuliano Ridwan menyampaikan belasungkawa mendalam atas peristiwa tersebut sekaligus mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan transportasi kereta api.
"Kami keluarga besar DPP GMKB turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Semoga para korban yang meninggal dunia mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ujar Nicolous dalam keterangannya pada Selasa (28/4/2026).
Dia menegaskan tragedi ini tidak boleh dianggap sebagai insiden biasa, melainkan sebagai peringatan serius bagi seluruh pihak terkait.
“Tragedi ini menjadi alarm keras bagi evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan perkeretaapian, khususnya di perlintasan sebidang dan manajemen operasional kereta. Keselamatan penumpang harus menjadi prioritas utama,” tegas Nicolous.
Kronologi Singkat
Peristiwa terjadi pada Senin malam (27/4/2026) sekitar pukul 20.52 WIB. KRL Commuter Line yang melaju dari arah Jakarta menuju Cikarang terpaksa berhenti di jalur Stasiun Bekasi Timur akibat gangguan di perlintasan rel.
Tak lama kemudian, KA Argo Bromo Anggrek yang berada di jalur yang sama tidak sempat menghindar dan menabrak bagian belakang KRL.

3 hours ago
2





















































