jpnn.com - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menilai film Ghost in the Cell sarat akan kritik sosial yang tajam. Alasannya, film karya Joko Anwar itu menggambarkan perlawanan terhadap kapitalisme, imperialisme, serta keserakahan berujung pada tindakan korupsi.
Hal itu disampaikan Hasto setelah ikut nobar Ghost in the Cell dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno di Metropole XXI, Jakarta Pusat, Minggu (7/6).
"Dalam film ini Joko Anwar dengan sangat cerdas menyampaikan bagaimana ada pengusaha yang sangat tamak, sehingga ketika dia ditangkap, dipenjara pun karena kasus korupsi," kata dia, Minggu.
Hasto secara spesifik menyoroti karakter Prakarsa Kitabuming, pengusaha korup dalam film yang dinilai refleksi situasi sosial.
Dia mengatakan Prakarsa dalam film digambarkan berasal dari Solo dan tetap menikmati kemewahan dari dalam penjara.
"Pengusaha yang namanya Prakarsa Kitabuming ini kemudian masih menikmati kemewahan yang luar biasa dan kemudian yang kritik sosialnya, dia berasal dari Solo. Nomor registrasinya 2106 1961. Ini sangat simbolis. Maka ini film yang mencerdaskan," ujar Hasto.
Dia juga menambahkan bahwa film Ghost in the Cell menjadi kritik terhadap peringatan keras terkait pengelolaan negara.
"Kader-kader PDIP wajib menonton dan semuanya untuk melihat pesan-pesan yang disampaikan, meskipun tampak ada kengerian, tetapi itulah kalau negara tidak dikelola dengan baik, apa yang disampaikan di dalam film dengan berbagai kritik sosial, politik dan juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara itu bisa terjadi," ujarnya.

8 hours ago
2



















































.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5495504/original/079773400_1770373061-Ze_Valente.jpg)
