jpnn.com, PALEMBANG - Industri angkutan penyebrangan nasional kini berada di titik kritis. Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyebrangan (GAPASDAP) melaporkan pembengkakan biaya operasional yang masif akibat kombinasi pelemahan rupiah dan tingginya harga minyak dunia.
Berdasarkan data transaksi Bank Indonesia per 4 Mei 2026, nilai tukar rupiah telah menembus angka baru dengan kurs jual mencapai Rp 17.464,89 dan kurs beli di atas Rp 17.291,11 per dolar AS.
Keterpurukan mata uang ini berdampak langsung pada biaya pemeliharaan kapal, pengadaan suku, cadang, dan pemenuhan kewajiban finansial lainnya yang berbasis valuta asing.
Kondisi ini diperparah dengan harga minyak mentah dunia yang masih bertengger kokoh di atas US$107 per barel. Tingginya harga tersebut ikut memberi tekanan terhadap biaya operasional kapal secara keseluruhan.
Ketua Umum DPP Gapasdap Khoiri Soetomo menerangkan, bagi pengusaha angkutan penyeberangan yang tergabung dalam GAPASDAP, keadaan ini semakin menyulitkan. Sebab, biaya-biaya terus bergerak naik, sementara pendapatan perusahaan relatif tidak berubah karena tarif angkutan penyeberangan hingga saat ini belum juga disesuaikan.
"Pelemahan rupiah sangat terasa dampaknya terhadap biaya perawatan kapal. Hampir seluruh komponen suku cadang kapal dipengaruhi oleh kurs dolar," terang Khoiri, Senin (4/5/2026).
Begitu juga biaya pengedokan, peralatan keselamatan, perlengkapan teknis kapal, hingga kebutuhan lain yang berkaitan langsung dengan pemenuhan standar keselamatan pelayaran. Ketika rupiah melemah, semua komponen tersebut ikut naik.
"Belum lagi ditambah tekanan dari harga minyak dunia yang membuat biaya operasi kapal menjadi semakin besar," ungkap Khoiri.

4 hours ago
2



















































