jpnn.com, JAKARTA - Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan hari ini melemah 27 poin atau 0,15 persen menjadi Rp 17.744 per USD dari sebelumnya Rp 17.717 per USD.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai sentimen dari internal masih disebabkan permasalahan defisit anggaran yang menjadi salah satu momok oleh pasar.
“Walaupun harga minyak mengalami penurunan, tetapi rupanya masih belum bisa mengangkat sentimen positif terhadap mata uang rupiah. Kita lihat mata uang negara tetangga semua menghijau, tetapi Indonesia memerah,” ungkap Ibrahim di Jakarta, Senin (25/5).
Dia melanjutkan dari luar, pelemahan rupiah disebabkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Salah satu gubernur Bank Sentral Amerika yaitu Christopher Waller, dia mengatakan bahwa jika ekspektasi inflasi menyimpang dari target, dia tidak akan ragu untuk mendukung kenaikan suku bunga.
“Kemungkinan besar Waller akan sependapat dengan pejabat-pejabat lainnya untuk menaikkan suku bunga,” ujarnya dalam rekaman suara di Jakarta, Senin.
Ketua The Fed Kevin Warsh sendiri dinilai berpotensi akan menaikkan suku bunga apabila inflasi masih cukup tinggi, kendati Presiden AS Donald Trump tidak menyerukan penurunan suku bunga dalam kondisi saat ini. Hal ini yang membuat kemungkinan besar suku bunga tetap tinggi hingga akhir 2026.
Seiring dengan itu, pasar turut menunggu rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal I-2026, lalu data perumahan, indikator inflasi pilihan The Fed, hingga indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti.

4 hours ago
4














































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485697/original/029038600_1769524103-9.jpg)





