jpnn.com - Asosiasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (Aspirasi) menyoroti fenomena exclusion error, yaitu terdepaknya masyarakat yang masih membutuhkan perlindungan sosial dari daftar penerima manfaat akibat status desil berubah.
Presiden Aspirasi Mirah Sumirat menekankan agar label desil tidak digunakan jika gagal menggambarkan kesulitan hidup rakyat secara nyata.
Dia mengaku tidak ingin berspekulasi mengenai jumlah kasus exclusion error sebelum adanya proses pendataan dan verifikasi menyeluruh.
Namun, maraknya keluhan masyarakat yang kehilangan bantuan sosial akibat pemutakhiran data dinilai sebagai persoalan serius yang pantang disepelekan.
"Jika data berubah tetapi kondisi kehidupan masyarakat tidak berubah, maka yang harus diperiksa adalah datanya, bukan rakyatnya yang disalahkan," kata Mirah dalam keterangan tertulis, Senin (24/8).
Merespons situasi tersebut, Aspirasi menyuarakan tujuh tuntutan utama kepada pemerintah:
1. Aspirasi menuntut penghentian dan evaluasi total terhadap penggunaan penetapan desil sebagai pendekatan utama dalam penentuan kemampuan ekonomi.
2. Pendekatan desil diminta untuk diganti dengan penyajian data sosial-ekonomi yang lebih transparan dan mencerminkan kondisi riil masyarakat.

1 hour ago
2







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489203/original/035305400_1769830456-psis_3.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5565231/original/003227000_1777015754-persis_2.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5566701/original/033588200_1777217674-Gemini_Generated_Image_97tk4b97tk4b97tk.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5348759/original/096928400_1757873841-idzs.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5554135/original/007412000_1776060694-persipal_kenzo.jpg)
