jpnn.com - Kunjungan Delegasi Partai Golkar ke Republik Rakyat Tiongkok pada 15–23 Juli 2026 memberikan kesempatan bagi saya untuk memahami secara langsung strategi pembangunan yang mengantarkan Tiongkok menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.
Dalam sesi perkuliahan di Sekolah Partai Akademi Administrasi Hunan, Kota Changsha, yang disampaikan oleh Professor Mao Mingfang dan Associate Professor Wu Nan, saya memperoleh gambaran mengenai transformasi ekonomi, pembangunan industri, serta strategi pemerataan pembangunan antarwilayah. Catatan ini merupakan refleksi atas pengalaman tersebut sekaligus upaya memahami pelajaran yang dapat dipetik bagi pembangunan Indonesia.
Transformasi Ekonomi
Tranformasi ekonomi Tiongkok tidak dapat dipisahkan dari kebijakan Reformasi dan Keterbukaan yang dimulai oleh Deng Xiaoping pada 1978. Deng memperkenalkan pendekatan pembangunan yang pragmatis melalui ungkapannya yang terkenal, “Tidak masalah kucing hitam ataupun kucing putih, yang penting dapat menangkap tikus.” Filosofi tersebut menegaskan bahwa keberhasilan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lebih penting daripada perdebatan ideologis mengenai sistem ekonomi. Reformasi tersebut membuka ruang bagi mekanisme pasar, investasi, industrialisasi, dan modernisasi tanpa meninggalkan peran negara dalam mengarahkan pembangunan (Deng Xiaoping, 1978).
Menurut Associate Professor Wu Nan, Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok meningkat sekitar 381 kali lipat dari 367,9 miliar RMB pada tahun 1978 menjadi sekitar 140,2 triliun RMB pada tahun 2025. PDB per kapita meningkat sekitar 152 kali lipat, sedangkan jumlah penduduk miskin berhasil ditekan dari sekitar 770 juta jiwa pada tahun 1978 menjadi nol persen pada akhir tahun 2020 berdasarkan standar kemiskinan nasional Tiongkok (Wu Nan, 2026). Di tengah perlambatan ekonomi global, ekonomi Tiongkok juga tetap tumbuh sekitar lima persen pada tahun 2025 dengan sektor manufaktur, teknologi tinggi, dan konsumsi domestik sebagai penggerak utama (National Bureau of Statistics of China, 2026).
Pertanyaan yang paling menarik adalah bagaimana Tiongkok mampu mengurangi kesenjangan pembangunan antara wilayah timur yang lebih maju dengan wilayah tengah dan barat yang sebelumnya relatif tertinggal? Wilayah pesisir seperti Shanghai, Shenzhen, dan Guangzhou berkembang lebih dahulu karena menjadi pusat perdagangan dan investasi.
Sebaliknya, provinsi seperti Gansu, Xinjiang, Yunnan, dan Tibet memperoleh perhatian khusus melalui strategi pembangunan kawasan barat, pembangunan infrastruktur, serta penguatan konektivitas nasional.
Jawaban yang paling komprehensif saya peroleh dari Peng Xiubin, Direktur Jenderal Asia Tenggara dan Selatan Departemen Internasional Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok.

1 hour ago
1


































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310367/original/071942200_1754711095-Justin_Hubner.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5545933/original/045717500_1775222563-IMG_2161.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5542420/original/080654500_1774942824-20260330IQ_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-37.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5046704/original/088175000_1733934093-Dony_Tri_Pamungkas_Cover.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5193024/original/060543500_1745211082-dean_fc.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5539833/original/090201100_1774627160-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541730/original/008563700_1774880362-20260330IQ_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-01.jpg)
