jpnn.com, JAKARTA - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan rupiah berisiko terus melemah apabila konflik antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel tidak kunjung reda.
Dia menjelaskan pergantian kepemimpinan di Iran justru menambah ketidakpastian karena dan bisa membuat pasar terus terguncang adanya perang in.
“Dalam keadaan seperti ini, pasar cenderung mempertahankan permintaan USD dan mengurangi penempatan dana di negara berkembang, sehingga rupiah sulit pulih cepat,” kata Josua dikutip Selasa (10/3).
Pada hari ini, Senin (9/3), rupiah melemah menyentuh Rp 16.990 per USD ketika harga minyak menembus USD 100 per barel.
Josua menilai stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) sejauh ini cukup penting untuk menahan gejolak agar pelemahan rupiah tidak berlangsung tidak teratur.
Namun, belum tentu cukup untuk membalikkan arah selama sumber tekanannya tetap berasal dari perang, lonjakan minyak, dan arus modal global.
Untuk diketahui, BI sebelumnya pada Februari lalu masih menahan suku bunga acuan pada level 4,75 persen dengan fokus utama penguatan stabilisasi rupiah. Bank sentral juga memperkuat intervensi di pasar dalam negeri dan luar negeri.
“Artinya, kebijakan Bank Indonesia saat ini lebih tepat dibaca sebagai upaya meredam kepanikan dan smoothing pergerakannya, bukan menjamin rupiah segera kembali menguat,” katanya.

4 hours ago
2






















.jpeg)






























