jpnn.com - Kebijakan tarif resiprokal (Agreement on Reciprocal Trade/ART) Amerika Serikat (AS) dinilai bisa menempatkan Indonesia pada posisi strategis di antara negara yang berada di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).
Sebab, kebijakan ini berpotensi membuka ruang kompetitif yang signifikan bagi Indonesia, khususnya bagi sektor tekstil dan komoditas unggulan lainnya.
Penilaian ini merupakan temuan dari hasil kajian strategis Prognosa Research & Consulting.
Kajian ini disampaikan dalam konferensi pers bertajuk "US–Indonesia Agreement on Reciprocal Tariff: Analisis Dampak Strategis Bagi Industri di Indonesia" yang diselenggarakan di Hotel Des Indes, Jakarta Pusat, Kamis (5/3).
Peneliti Prognosa Research & Consulting Garda Maharsi mengatakan bahwa di sisi lain perjanjian ini menghadirkan peluang sekaligus risiko yang perlu diantisipasi secara cermat oleh pemerintah dan pelaku industri di Tanah Air.
“Kondisi itu membuka ruang kompetitif yang signifikan, khususnya bagi sektor tekstil dan komoditas unggulan lainnya,” kata Garda.
Ia melanjutkan kewajiban pembelian produk AS senilai USD 38,4 miliar yang mencakup sektor energi, dirgantara, dan pertanian justru berpotensi mengubah struktur perdagangan nasional secara fundamental jika tidak dikelola dengan kebijakan mitigasi yang tepat.
"Penting untuk pemerintah memastikan sektor terdampak didukung dengan komitmen transfer of knowledge & transfer of technology, sejalan dengan agenda penciptaan nilai tambah ekonomi," katanya.

2 hours ago
2

















.jpeg)


































