jpnn.com, JAKARTA - Kebijakan ekspor satu pintu untuk produk sumber daya alam strategis melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI) membuat petani sawit di Sumatra Utara resah.
Pasalnya, harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani yang sebelumnya sempat mencapai Rp 3.600 per kilogram menjadi terjun bebas hingga Rp 2.300 per kilogram.
“Semula harganya bagus, bisa mencapai Rp 3.600 hingga Rp 3.700 per kilogram. Sekarang Cuma dihargai Rp 2.300 hingga Rp 2.500. Kondisi kami diperberat dengan mahalnya harga pupuk. Pupuk yang naik jenis NPK, yaitu Rp 900 ribu per satu sak dari Rp 700.000,” keluh Wahyudin, petani sawit di Langkat.
Namun tidak semua pabrik kelapa sawit membeli TBS dengan harga rendah.
Sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) tidak terdampak secara psikologis atas kebijakan ekspor komoditas strategis satu pintu melalui DSI.
Ketua Koperasi Unit Desa Sumber Usaha, Mujahit mengatakan KUD Sumber Usaha selaku plasma mitra PT Rimba Mujur Mahkota (bagian dari Artha Graha) yang membeli TBS petani dengan harga mengikuti ketentuan Dinas Perkebunan Kabupaten Mandailing Natal.
“Kami bersyukur, PT RMM membeli TBS kami dengan harga tinggi, sesuai ketentuan Disbun. Petani bisa lebih tenang, bisa mengimbangi kebutuhan pupuk dan BBM yang masih tinggi,” kata Mujahit yang dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (30/5).
Koperasi petani sawit yang berlokasi di Desa Sikara-kara, Kecamatan Natal ini mengaku menjalin hubungan baik dan saling menguntungkan dengan PT RMM selaku Inti.

1 hour ago
1





















































