jpnn.com, JAKARTA - Pengembangan Dimethyl Ether (DME) berbasis batu bara dinilai berada di titik persimpangan antara ambisi kemandirian energi dan komitmen penurunan emisi.
Sejumlah pengamat menilai, tanpa intervensi teknologi tambahan, proyek ini justru berpotensi menambah beban emisi nasional.
DME yang dilakukan oleh pemerintah mengandalkan clean coal technology yang diklaim mampu menekan emisi hingga 40 persen dibandingkan pembakaran batu bara secara langsung.
Klaim itu menjadi dasar bahwa hilirisasi batu bara masih dapat berjalan beriringan dengan agenda transisi energi.
Pengamat energi UI Iwa Garniwa menilai pengembangan DME harus diimbangi dengan penerapan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) agar tetap selaras dengan target Net Zero Emission (NZE).
Adapun, CCUS merupakan teknologi untuk menangkap emisi karbon dioksida (CO2) dari aktivitas industri, yang kemudian dimanfaatkan kembali atau disimpan secara permanen di bawah tanah guna menekan emisi gas rumah kaca.
"Tanpa CCUS, emisi siklus hidup DME batu bara 20 persen lebih tinggi dari LPG. Ini bertentangan dengan komitmen NDC. Namun, penerapan CCUS akan menaikkan capex 20 persen dan opex 15 persen," ujar Iwa.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN), Tata Mustasya. Dia menilai, walaupun dengan berbagai intervensi teknologi, DME tetap berpotensi menambah beban emisi.

10 hours ago
2





















































