jpnn.com, JAKARTA - Penggunaan foto balita pada kemasan air minum Aqua masih menuai kritik dari berbagai pihak. Sejumlah pakar menilai langkah tersebut berpotensi melanggar etika komunikasi pemasaran dan memengaruhi persepsi konsumen.
Ketua Badan Pengawas Perusahaan Periklanan Indonesia (BP3I) Susilo Dwihatmanto, menegaskan bahwa penggunaan visual anak dalam promosi harus mengikuti aturan yang ketat.
Hal ini berlaku di mana pun gambar tersebut ditempatkan, termasuk pada pembungkus luar produk.
Menurut Susilo, pembungkus luar justru menjadi elemen pertama yang dilihat konsumen saat berada di rak toko. Karena itu, fungsi visualnya tidak bisa dianggap sekadar pelengkap.
“Wajah anak, terutama bayi, memiliki kesan kepolosan yang secara psikologis dapat memicu simpati publik. Karena itu penggunaan wajah anak dalam komunikasi pemasaran harus sangat berhati-hati agar tidak dimanfaatkan secara berlebihan untuk kepentingan komersial,” ujar Susilo, dalam keterangannya, Selasa (5/5).
Dia menambahkan, air minum kemasan bukanlah produk khusus bayi. Oleh karena itu, penggunaan simbol anak dinilai tidak relevan dan berpotensi menyesatkan persepsi publik.
Pakar komunikasi Burhanuddin Abe turut menyoroti fenomena ini sebagai bentuk eksploitasi simbolik dalam strategi pemasaran. Dia menilai citra anak sengaja digunakan untuk memperkuat pesan produk.
Menurutnya, gambar anak sering diasosiasikan dengan nilai kemurnian, kesehatan, dan kepercayaan. Asosiasi tersebut kerap dimanfaatkan untuk menarik simpati konsumen, meskipun tidak berkaitan langsung dengan fungsi produk.

4 hours ago
2




















































