jpnn.com - Aksi nasional mahasiswa dan masyarakat sipil menyampaikan kritik keras terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka menyikapi Perjanjian Dagang RI-AS, Keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BOP), Rencana Pengiriman Pasukan TNI ke Gaza, serta Serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran.
Dalam aksi yang berlangsung di depan Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta pada Jumat (6/3/2026), mahasiswa dan masyarakat sipil menyerukan slogan "Lawan Imperialisme Baru, Batalkan ART, Keluar dari Board of Peace!
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama Presiden RI Prabowo Subianto, dalam pertemuan Board of Peace di Washington DC, Kamis (19/2). Foto: dokumentasi Biro Pers Istana
Aktivis Solidaritas Perempuan Dina Herdiana selaku juru bicara aksi nasional menilai pemerintahan Prabowo-Gibran telah secara terang-terangan menunjukkan watak sesungguhnya sebagai boneka imperialis Amerika Serikat.
"Presiden Prabowo dengan senang hati tunduk pada tuntutan Trump untuk menetapkan tarif dan negosiasi-negosiasi yang merugikan bangsa Indonesia," ujarnya.
Tindakan Prabowo-Gibran berpuncak pada penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) dan keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) dengan komitmen mengirimkan ribuan Pasukan TNI untuk menjadi International Stabilization Force (ISF) di Gaza, Palestina.
"Semuanya berbanding terbalik dengan omon-omon Presiden tentang kedaulatan bangsa dan stempel antek asing yang dilekatkan pada gerakan rakyat. Nyatanya, pemerintah hari ini justru bertindak nyata sebagai antek imperialisme Amerika Serikat," tutur Dina.
Mereka memandang Indonesia terjebak dalam permainan dagang Donald Trump (Amerika Serikat). Banyak substansi dalam perjanjian dagang itu merugikan rakyat Indonesia.

4 hours ago
1


















.jpeg)


































