jpnn.com - Saat ini, saya adalah seorang Diaspora Indonesia, Maritime Industry Specialist, bekerja di Perusahaan Norwegia penempatan project di Tiongkok.
Saya menulis surat ini dari sebuah kota industri di pesisir Tiongkok, di sela jadwal kerja di sektor maritim yang tak banyak diketahui orang Indonesia: bahwa rantai pasok kapal, pelabuhan, dan logistik dunia sebagian besar bergerak dari sini, dan bahwa banyak putra-putri Indonesia yang ikut menggerakkannya.
Kami ada di sini bukan karena tidak cinta tanah air. Kami ada di sini karena cinta itu, di Indonesia, sering kali berbiaya terlalu mahal.
Pekan lalu, sebuah kabar dari Jakarta menghantam grup-grup WhatsApp diaspora seperti gelombang dingin: Ibrahim Arief — yang akrab disapa Ibam — dituntut 22,5 tahun penjara.
Ia konsultan IT. Alumnus ITB, lulusan Erasmus Mundus. Menolak tawaran kerja dari Facebook Inggris dan perusahaan teknologi raksasa di London.
Pulang ke Indonesia dengan gaji yang jauh lebih kecil. Membantu Kementerian Pendidikan era Nadiem Makarim mendigitalisasi sekolah lewat program Chromebook.
Tuntutannya: 15 tahun penjara, denda Rp 1 miliar, ditambah uang pengganti Rp 16,9 miliar yang jika tak dibayar berbuah 7,5 tahun lagi. Total 22,5 tahun.
Bukti aliran dana ke rekeningnya? Tidak ada. Konflik kepentingan? Tidak ditemukan. Tanda tangan di kajian Chromebook yang dinarasikan jaksa? Hitam di atas putih, tidak pernah ada.

2 hours ago
4



















































