Koalisi Sipil Desak Penghentian Pelatihan Militer Seusai Lima Peserta Meninggal

7 hours ago 4

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan kelembagaan 80 ribu Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdeskel) Merah Putih, Senin (21/7). Foto: Dokumentasi Puspen Kemendagri

jpnn.com, JAKARTA - Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menyampaikan dukacita yang mendalam atas meninggalnya lima calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih dalam pelaksanaan pelatihan dasar militer. Tragedi ini dinilai sebagai konsekuensi serius dari kebijakan yang sejak awal keliru karena memaksakan pendekatan militer ke dalam ruang sipil tanpa dasar kebutuhan, relevansi, dan justifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Koalisi memandang kematian lima calon manajer tersebut semakin menunjukkan bahwa sistem pendidikan dan pelatihan militer tidak tepat diterapkan secara serampangan kepada warga sipil. Tidak ada hubungan antara profesionalisme dalam mengelola koperasi dengan pelatihan militer. Kompetensi pengelola koperasi dibangun melalui penguasaan tata kelola organisasi, kepemimpinan partisipatif, akuntabilitas, literasi keuangan, dan pemberdayaan masyarakat, bukan melalui latihan militer.

Pelibatan TNI dalam pelaksanaan program Koperasi Desa Merah Putih dinilai sebagai kebijakan yang tidak tepat dan bertentangan dengan semangat reformasi sektor keamanan. Selain menimbulkan persoalan hukum karena berada di luar mandat utama TNI sebagaimana diatur dalam Undang-Undang TNI, kebijakan ini juga memperlihatkan semakin meluasnya praktik militerisasi ruang sipil.

"Pemerintah seolah menganggap setiap persoalan tata kelola sipil dapat diselesaikan melalui pendekatan militer, padahal organisasi sipil dan institusi militer memiliki karakter, fungsi, dan tujuan yang berbeda," bunyi keterangan Koalisi Masyarakat Sipil, Sabtu (26/6).

Koalisi menilai pendekatan militeristik bagi masyarakat sipil, khususnya calon manajer Koperasi Desa Merah Putih, berpotensi mengikis nilai-nilai demokrasi yang menjadi fondasi kepemimpinan sipil. Lingkungan militer dibangun di atas prinsip komando, hierarki, dan kepatuhan yang relevan untuk fungsi pertahanan negara. Sebaliknya, organisasi sipil membutuhkan ruang bagi berpikir kritis, kreativitas, inovasi, dialog, argumentasi, dan pengambilan keputusan secara partisipatif. Memindahkan budaya militer ke dalam organisasi sipil hanya akan melahirkan pola kepemimpinan yang otoritatif, anti kritik, minim dialog, dan lebih mengutamakan kepatuhan dibanding penyelesaian masalah secara rasional dan kolaboratif. Pendekatan seperti ini tidak akan menghasilkan pengelola koperasi yang profesional, melainkan menggerus budaya organisasi yang sehat dan demokratis.

Tragedi ini menguatkan kritik koalisi terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang terus membawa pendekatan militer ke dalam urusan sipil. Sebelumnya koalisi juga telah mengkritik program pendidikan bercorak militer bagi anak-anak yang dianggap bermasalah di Jawa Barat karena sejak awal pendekatan tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat, bertentangan dengan prinsip pendidikan, dan berpotensi mengikis kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kebebasan berpendapat. Penghentian program tersebut menunjukkan bahwa pendekatan militer bukanlah solusi atas persoalan pendidikan maupun persoalan sosial. Sangat disayangkan pola pikir yang sama kini kembali dipaksakan dalam program pelatihan Manajer Koperasi Desa Merah Putih hingga berujung pada jatuhnya korban jiwa.

Koalisi menilai program pelatihan Manajer Koperasi Desa Merah Putih sejak awal telah cacat secara konseptual karena dibangun di atas asumsi yang keliru bahwa disiplin militer identik dengan profesionalisme organisasi sipil. Tragedi yang menewaskan lima peserta semakin menegaskan bahwa asumsi tersebut bukan hanya keliru, tetapi juga berbahaya. Karena itu pemerintah harus segera menghentikan program ini dan melakukan evaluasi menyeluruh sebelum menyusun konsep yang benar-benar sesuai dengan prinsip tata kelola organisasi sipil, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan nilai-nilai demokrasi. Pemerintah juga perlu menghentikan berbagai program lain yang menggunakan pendekatan militer dalam urusan sipil, termasuk Program Makan Bergizi Gratis, karena praktik militerisasi kebijakan sipil tidak hanya menyimpang dari agenda reformasi sektor keamanan, tetapi juga mengaburkan batas fungsi antara institusi pertahanan dan institusi sipil dalam negara demokratis.

Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan mendesak pemerintah, khususnya Komnas HAM, untuk membentuk tim investigasi pencari fakta yang independen, transparan, dan menyeluruh atas meninggalnya lima orang peserta pelatihan dasar militer serta melakukan penegakan hukum terhadap seluruh pihak yang bertanggung jawab. Tidak hanya pelaku di lapangan, tetapi juga struktur komando dan para pengambil keputusan yang merancang serta memerintahkan pelaksanaan program ini juga harus dimintai pertanggungjawaban hukum atas hilangnya nyawa warga negara di bawah kendali penyelenggara.

Koalisi masyarakat sipil menuntut penyelidikan dan penghentian pelatihan militer bagi calon manajer koperasi desa.

Read Entire Article
Koran JPP|