jpnn.com, JAKARTA - Pemandangan toleransi luar biasa terlihat di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Di saat umat Muslim sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan khusyuk, masyarakat Tionghoa merayakan puncak Festival Cap Go Meh pada Selasa (3/3).
Dua momen besar ini berjalan berdampingan, membuktikan bahwa perbedaan adalah energi positif bagi bangsa. Kota yang dijuluki sebagai Kota Seribu Kelenteng ini kembali memukau ribuan wisatawan dengan atraksi barongsai, ritual ekstrem para tatung, hingga arak-arakan budaya yang megah.
Menambah kemeriahan tahun ini, Extrajoss kembali menggandeng Bobon Santoso untuk tahun ketiga secara berturut-turut guna mendukung pelestarian budaya ini.
"Singkawang menunjukkan bagaimana keberagaman dirawat dengan baik. Masyarakatnya rukun, menjaga budaya, dan saling menghormati," ujar Head of Marketing PT Bintang Toedjoe, Arwin Nugraha Hutasoit, Jumat (6/3).
Kemeriahan Cap Go Meh di Singkawang bukan sekadar agenda pariwisata. Berdasarkan data SETARA Institute 2024, Singkawang menduduki peringkat kedua kota paling toleran di Indonesia. Harmoni antara etnis Tionghoa, Melayu, Dayak, dan lainnya menjadi fondasi kuat kehidupan sehari-hari.
"Ini adalah energi positif yang nyata," ujar Arwin.
Kehadiran Chef Rakyat Indonesia, Bobon Santoso, memberikan warna tersendiri. Bobon terlihat berbaur dengan komunitas tatung dan membagikan semangat melalui segelas Extrajoss kepada warga.
Bagi Bobon, kuliner seperti Lontong Cap Go Meh adalah bukti nyata akulturasi budaya yang jujur. Merayakan Cap Go Meh di tengah Ramadan merupakan hal yang indah sekali di dalam kebersamaan.

4 days ago
4





















































