jpnn.com - Peneliti Senior Citra Institute Efriza menilai pernyataan Budi Arie Setiadi terkait percepatan pemilu berpotensi menjadi blunder politik bagi Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan “Geng Solo”.
Menurut Efriza, pernyataan yang disampaikan Budi Arie saat berada di samping Jokowi dapat ditafsirkan sebagai dukungan terhadap gerakan yang berpotensi mengganggu stabilitas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Pernyataan Budi Arie itu sembrono dan akhirnya dia meminta maaf, apalagi disampaikan di samping Jokowi,” kata Efriza.
Dia menilai pernyataan mengenai keresahan masyarakat, kondisi ekonomi, hingga kemungkinan percepatan Pemilu menjadi sensitif karena Budi Arie merupakan mantan menteri di pemerintahan Prabowo.
“Wajar kalau kemudian dinilai sebagai dukungan terhadap demonstrasi, seolah-olah mendukung rongrongan terhadap pemerintahan Prabowo,” ujarnya.
Efriza mengatakan narasi mengenai “percepatan kekuasaan” dan “patahan sejarah” juga dapat memicu spekulasi politik apabila tidak dijelaskan secara proporsional.
“Kalau tidak dijelaskan secara proporsional, ini bisa memunculkan spekulasi bahwa para pendukung Jokowi sedang mengganggu stabilitas pemerintahan Prabowo,” tuturnya.
Menurut dia, persoalan tersebut justru berpotensi menjadi bumerang bagi Jokowi dan kelompok pendukungnya.

6 hours ago
4













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5565946/original/060695200_1777098813-lemos.jpg)







