jpnn.com - JAKARTA - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan bahwa realisasi investasi sektor hilirisasi pada Kuartal I-2026 mencapai Rp 147,5 triliun.
Nilai itu merepresentasikan 29,6 persen dari total realisasi investasi nasional. Capaian tersebut juga menjadi sinyal positif terhadap ketangguhan struktur ekonomi domestik di tengah dinamika global.
Merespons hal ini, Sekretaris Jenderal Indonesian Mining Association (IMA) Tony Wenas memberikan catatan strategis terkait arah kebijakan industrialisasi ke depan.
Dia menekankan bahwa industri hulu pertambangan telah menuntaskan kewajiban nilai tambah sesuai regulasi. Oleh karena itu, kini fokus kebijakan harus bergeser pada penguatan sektor manufaktur sebagai penyerap (offtaker) utama.
Menurut Tony, tantangan krusial saat ini bukan lagi pada proses pemurnian dasar, melainkan penciptaan ekosistem industri yang lebih dalam, guna mengolah produk antara menjadi barang jadi yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
"Sekarang ini produknya hampir semuanya adalah produk hilir. PR kita nasional ini adalah yang lebih hilir dari hilir itu tadi. Jadi, slab baja nikel itu mau dibikin apa lagi nantinya? Bukan itu, kan, target ekspornya," kata Tony.
Dia mengungkap ciri khas yang membedakan antara peran sektor pertambangan dan manufaktur dalam rantai pasok. Tony mencontohkan, pemrosesan lebih lanjut dari katoda tembaga menjadi produk seperti wire rod hingga copper foil, merupakan domain industri pengolahan lanjut, yang pertumbuhannya harus dipacu secara masif guna memperkuat struktur industri domestik.
"Itu bukan perusahaan tambang, itu manufacturing. Contohlah tembaga kita sudah 99,99 persen, tetapi, kan, yang dibutuhkan negara ini adalah wire rod, copper foil tadi kita bahas atau apa yang industri itu yang mesti tumbuh," ungkapnya.

3 days ago
9



















































