jpnn.com, CILACAP - Anggota DPR Bambang Soesatyo alias Bamsoet menilai potensi pembentukan Koperasi Merah Putih sebagai transformasi dari koperasi desa sangat besar, tetapi masih dibayangi persoalan klasik yang belum terselesaikan.
Pernyataan tersebut disampaikan Bamsoet saat peluncuran buku 'Penguatan Koperasi Merah Putih Melalui Produk Lokal Berbasis Merek Kolektif' karya Dr. Dewi Tenty Septi Artiany di Parle Senayan, Kamis (30/4).
Dia menyampaikan Kementerian Koperasi tahun 2025 mencatat jumlah koperasi berkisar 220 ribu, namun tidak semuanya benar-benar aktif dan berkembang.
Sisanya cenderung stagnan, bahkan banyak yang sekadar menyisakan papan nama tanpa aktivitas ekonomi yang nyata.
Kontribusi koperasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga masih berkisar di angka 5 persen, jauh tertinggal dibandingkan negara-negara dengan ekosistem koperasi maju seperti Korea Selatan atau Jepang.
Mayoritas koperasi di Indonesia masih bergerak di sektor simpan pinjam dengan skala usaha relatif kecil, sehingga daya ungkitnya terhadap ekonomi riil belum signifikan.
“Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kita memiliki jumlah koperasi yang besar, tetapi kualitas dan keberlanjutannya masih lemah," kata Bamsoet dalam keterangannya, Jumat (1/5).
Lebih lanjut, Ketua ke-15 MPR itu menyampaikan situasi ini memperlihatkan pembenahan koperasi tidak cukup berhenti pada pembentukan kelembagaan, tetapi harus menyentuh model bisnis dan daya saing produk.

2 hours ago
3



















































