jpnn.com - Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang akan digelar pada Agustus 2026, dinamika internal organisasi kian menghangat.
Sejumlah manuver mulai terlihat—baik dalam bentuk pencalonan diri maupun pengusungan figur tertentu.
Yang menarik, pola kontestasi kali ini makin terang dibaca dalam format berpasangan, yakni antara calon Ketua Umum dan calon Rais Aam.
Oleh karena itu, tidak berlebihan jika kita menyebutnya sebagai “paslon”.
Rais Aam memang dipilih melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Namun, dalam praktik politik organisasi, komposisi AHWA sering kali dikondisikan, dipengaruhi, bahkan diatur melalui relasi dan kepentingan yang melibatkan calon Rais Aam dan calon Ketua Umum.
Saya mencermati dari dekat percaturan para aktor utama dalam Muktamar ke-35 ini.
Dari hasil pencermatan tersebut, dinamika di lapangan saat ini dapat dibaca sebagai berikut.
Pertama, calon Ketua Umum petahana, Yahya Cholil Staquf. Pada posisi saat ini, ia sedang mencari pasangan untuk posisi Rais Aam yang dapat memperkuat basis dukungan sekaligus memperluas legitimasi.

1 hour ago
3



















































