jpnn.com, KUTAI KARTANEGARA - Hadi Sugianto pada 2020 memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya di sektor minyak dan gas (migas) dan mencoba peruntungan sebagai petani.
Di musim panen pertama, ayah empat orang anak ini hanya mampu memanen sekitar 30% dari total lahan yang digarap.
Penghasilannya waktu itu bahkan hanya cukup untuk menutup biaya produksi dan kebutuhan sehari-hari.
“Waktu itu saya hampir putus asa, kok hasil pertanian hanya segini-segini aja,” kenangnya.
Namun, kegagalan itu justru menjadi pelajaran berharga. Pada 2024, Hadi resmi bergabung sebagai petani binaan dalam program Agrosolution Pupuk Kaltim.
Melalui program ini, dia mendapat pendampingan intensif tentang pertanian presisi, mulai dari pentingnya mengukur pH tanah sebelum menanam, teknik pemupukan berbasis kebutuhan tanah dan tanaman, hingga bagaimana menyesuaikan jenis dan dosis pupuk dengan musim tanam untuk hasil yang optimal.
Tak hanya itu, Hadi juga diperkenalkan dengan konsep pertanian organik. Dia mulai menggunakan pupuk hayati ramah lingkungan Pupuk Kaltim, seperti Ecofert dan bioaktivator Biodex.
Menurutnya, metode pertanian organik memiliki sejumlah keunggulan, seperti lebih tahan hama, lebih mudah menyesuaikan dengan musim hujan dan lebih hemat dalam penggunaan pupuk.