jpnn.com, JAKARTA - Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menanggapi rencana pemerintah menerbitkan instrumen utang Panda Bonds di Tiongkok.
Ibrahim menilai langkah itu sebagai salah satu strategi alternatif pemerintah untuk melakukan diversifikasi sumber pembiayaan negara di luar mata uang dolar Amerika Serikat (USD).
Menurut Ibrahim, Panda Bond menjadi opsi menarik di tengah upaya Indonesia mengelola porsi utang luar negeri. Data 2024 hingga 2025 menunjukkan porsi kepemilikan asing dalam surat utang negara masih di bawah ambang batas maksimal sebesar 30 persen.
"Ini, kan, sebenarnya salah satu alternatif Panda Bond ini untuk mencari surat utang yang berbasis bukan dolar lagi," ujar Ibrahim kepada jpnn.com, Jumat (8/5).
Ibrahim menilai diversifikasi itu relevan karena hubungan perdagangan ekspor-impor Indonesia dengan negara Tirai Bambu tersebut sangat kuat
Dia menyoroti komoditas andalan Indonesia, seperti nikel, timah, dan batu bara yang mayoritas pasarnya di Tiongkok.
Menurut Ibrahim, langkah pemeringah menerbitkan obligasi dalam mata uang Yuan itu sebagai upaya menyinkronkan arus kas perdagangan dengan struktur utang luar negeri agar lebih andal.
"Indonesia dengan Tiongkok itu sahabat yang istilahnya teman baik dalam suka dan duka,sehingga bagi saya, Panda Bond boleh-boleh saja, semoga berhasil. Namanya juga orang usaha, di mana pun boleh, kan," tuturnya.

2 weeks ago
12













































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5485697/original/029038600_1769524103-9.jpg)






