Peringatan 30 Tahun Kudatuli di Surabaya, Puti Guntur: Ini Tragedi Rakyat Indonesia

2 days ago 4

Ratusan kader dan simpatisan PDI Perjuangan memadati Posko Pandegiling di Jalan Pandegiling, Surabaya, pada Jumat malam (24/7), untuk memperingati 30 tahun Peristiwa Kudatuli atau Tragedi 27 Juli 1996. Foto: Source for jpnn

jpnn.com, SURABAYA - Ratusan kader dan simpatisan PDI Perjuangan memadati Posko Pandegiling di Jalan Pandegiling, Surabaya, pada Jumat malam (24/7), untuk memperingati 30 tahun Peristiwa Kudatuli atau Tragedi 27 Juli 1996. Acara yang mengusung tema Merawat Sejarah, Mewariskan Perjuangan ini dirancang menyerupai mimbar demokrasi dan dihadiri oleh cucu Bung Karno, Puti Guntur Soekarno, mantan Wali Kota Surabaya Bambang DH, Kepala Badan Sejarah DPP PDI Perjuangan Bonnie Triyana, budayawan Agung Sinta, serta kader senior Promeg (Pro Megawati) Baktiono.

Seno, putra dari tokoh senior PDI Perjuangan Insinyur Sutjipto, membuka rangkaian acara sebagai penjaga posko peninggalan sang ayah. Ia mengaku terharu mendengar himne partai dikumandangkan di lokasi yang dulunya menjadi tempat kader-kader beraktivitas setiap hari. Seno menyatakan, kehadirannya di posko tersebut adalah untuk menjaga peninggalan keluarga yang juga menjadi saksi bisu sejarah partai. Ia pun mengenang momen saat Megawati Soekarnoputri mendeklarasikan diri sebagai ketua umum PDI secara de facto di tempat itu. "Di situlah baru saya menyadari bahwa keberanian itu adalah sebuah modal yang harus dipakai sebagai semangat perjuangan," ujar Seno.

Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, Puti Guntur Soekarno, menegaskan bahwa peristiwa Kudatuli bukan sekadar sejarah kelam bagi partainya atau keluarga Megawati semata. Menurutnya, tragedi tersebut merupakan pelanggaran berat yang menjadi milik seluruh rakyat Indonesia. Puti berharap generasi muda, termasuk Gen Z dan Gen Y, turut hadir dan memahami bahwa demokrasi yang dinikmati saat ini lahir dari perjuangan berdarah para senior partai. "Mereka yang harus berterima kasih ketika hari ini mereka bisa bersuara," ujarnya. Puti kemudian memimpin mengheningkan cipta untuk mengenang para pejuang yang telah wafat. "Mari kita heningkan cipta untuk almarhum Pak Sutjipto, untuk almarhum Pak Sukomo, untuk para sahabat pejuang, senior-senior pejuang yang telah meninggalkan kita," katanya.

Bambang DH mengisahkan kronologi menjelang kerusuhan tersebut. Ia menuturkan bahwa sehari sebelum kerusuhan pecah di Jakarta pada Sabtu, para kader PDI Pro Megawati di Surabaya sempat merencanakan aksi turun jalan pada 28 Juli 1996. Rencana yang awalnya diperkirakan diikuti sekitar sepuluh ribu massa itu batal menyusul kabar kerusuhan di Jakarta, sehingga yang akhirnya turun ke jalan tersisa sekitar lima ribu orang. Massa yang bergerak dari Kebun Binatang Surabaya menuju Jalan Diponegoro kemudian dipukul mundur aparat, dan sejumlah kader ditangkap serta ditahan di Kodim Surabaya Selatan. Di akhir ceritanya, Bambang menitipkan pesan agar peristiwa serupa tidak terulang. "Intinya, tentara dan polisi, alat negara, jangan lagi digunakan sebagai alat kekuasaan," kata Bambang DH.

Bonnie Triyana menyebut Posko Pandegiling sebagai benteng moral yang turut mempertahankan demokrasi Indonesia. Ia mengingatkan bahwa perjuangan demokrasi politik yang telah dicapai belum lengkap tanpa adanya demokrasi ekonomi. "Kalau tembok-tembok di sini bisa bersaksi, kalau batu kerikil di jalanan ini bisa bicara, maka ia akan mengatakan bahwa Pandegiling ini adalah benteng moral, benteng yang mempertahankan demokrasi di Indonesia," ujarnya. Anggota DPR RI itu berharap kisah-kisah dari para saksi sejarah didokumentasikan agar diwariskan kepada kader muda partai. "Tanpa Bapak Ibu semua, tanpa pejuang-pejuang demokrasi di sini yang mempertaruhkan nyawanya, Indonesia hari ini tidak akan mengalami demokrasi," ujar Bonnie.

Budayawan Agung Sinta mengingatkan bahwa perjuangan menjelang Kudatuli tak hanya terjadi di Jakarta dan Surabaya, tetapi juga bergolak di Malang, Tulungagung, Jember, Banyuwangi, hingga Ponorogo pada Juli 1996. "Saya ini hanya ibarat sebutir pasir di laut, tetapi saya sejelek apa pun ikut melahirkan Banteng Bulat Moncong Putih dari Promeg," katanya. Ia menceritakan sosok Bu Sulika, perempuan berusia 80 tahun yang menurutnya seorang marhaenis sejati dan tak pernah absen ke Jakarta setiap ada pergerakan PDI, serta Pak Kateni yang rutin mengangkut sesama kader dengan truk membawa bekal beras dan kompor untuk aksi di Jakarta.

Senior kader Baktiono, dalam sambutannya, mengenang pengorbanan simpatisan seperti Mas Rianto dan Solikin yang dipukuli aparat saat berkampanye mengenakan kaus bergambar Megawati pada 1997. Acara juga diisi pameran sekitar 32 foto dokumentasi Peristiwa Kudatuli hasil jepretan seorang fotografer yang mengaku kameranya pernah dirampas aparat saat mengabadikan momen penjemputan Megawati. "Dulu, 30-35 tahun lalu, dari seribu orang yang hadir di sini, yang membawa foto cuma saya. Sekarang semua orang membawa kamera. Itu bedanya," kata dia. Baktiono berharap kisah dan dokumentasi milik para senior kader lain turut dikumpulkan sebagai arsip sejarah partai.

Menjelang penutupan, ketua panitia Setiawan mengumumkan rencana rangkaian peringatan lanjutan pada 2027 yang bertepatan dengan 100 tahun berdirinya Partai Nasional Indonesia (PNI) dan 80 tahun usia Megawati Soekarnoputri. Acara di Posko Pandegiling ditutup dengan doa bersama yang dipimpin sejumlah senior kader. (tan/jpnn)


Ratusan kader dan simpatisan PDI Perjuangan memadati Posko Pandegiling Surabaya dalam peringatan 30 tahun Peristiwa Kudatuli.

Read Entire Article
Koran JPP|