MK Larang Wamen Rangkap Jabatan Komisaris BUMN, Efriza: Pemerintah Wajib Patuh

6 hours ago 1

 Pemerintah Wajib Patuh

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Gedung Mahkamah Konstitusi (MK). Ilustrasi. Foto: arsip JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang melarang wakil menteri (wamen) merangkap jabatan sebagai komisaris BUMN dinilai menjadi ujian serius bagi komitmen pemerintah dalam menjalankan tata kelola pemerintahan yang bersih.

Peneliti Senior Citra Institute Efriza menegaskan Putusan MK Nomor 128/PUU-XXIII/2025 harus dipatuhi karena bersifat final dan mengikat.

"Putusan ini sudah semestinya diikuti oleh pemerintah. Ini langkah penting untuk memperkuat prinsip tata kelola pemerintahan yang baik," kata Efriza kepada JPNN.com, Rabu (1/7).

Menurut dia, putusan tersebut mengembalikan hakikat jabatan publik yang harus dijalankan secara penuh, profesional, dan bebas dari konflik kepentingan.

"Jabatan publik harus dijalankan dengan integritas dan fokus, tanpa potensi konflik kepentingan yang dapat memengaruhi objektivitas dalam pengambilan keputusan maupun kebijakan," ujarnya.

Efriza mengatakan MK telah menutup ruang praktik rangkap jabatan karena berpotensi melemahkan akuntabilitas pejabat negara sekaligus membuat kinerja menjadi tidak optimal.

Selain itu, putusan tersebut mempertegas pemisahan peran antara pejabat negara dengan kepentingan bisnis BUMN.

Dia menilai putusan MK dapat menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat reformasi birokrasi sekaligus meningkatkan kepercayaan publik.

Putusan MK yang melarang wamen merangkap jabatan jadi komisaris BUMN dinilai sebagai ujian serius bagi komitmen pemerintah

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
Koran JPP|