jpnn.com, JAKARTA - Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi memberikan catatan kritis terkait implementasi mandatori B50 yang mulai diberlakukan secara resmi pada hari ini, Rabu (1/7).
Fahmy mengapresiasi langkah berani pemerintah yang berupaya menyetop ketergantungan terhadap impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar melalui kebijakan tersebut.
Namun, dia juga memberikan peringatan mengenai potensi kenaikan impor minyak mentah yang masih dibutuhkan sebagai bahan pencampur B50.
Menurut Fahmy, tantangan utama kebijakan ini terletak pada harga komoditas sawit di pasar global.
Jika harga bahan baku melonjak, maka beban biaya produksi pun akan ikut terangkat.
"Fluktuasi harga dunia CPO akan mempengaruhi biaya produksi B50," ujar Fahmy Radhi dalam keterangan tertulisnya, Rabu (1/7).
Fahmy menjelaskan pemerintah perlu menyiapkan ancang-ancang anggaran yang lebih besar.
Dia menilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi tergerus lebih dalam apabila harga Crude Palm Oil (CPO) tengah berada di posisi melambung.

4 hours ago
2













































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5152772/original/003607900_1741280110-20250306223034_083A9600.jpg)







