jpnn.com, JAKARTA - Indonesia memasuki babak baru dalam ketahanan pangan nasional setelah berhasil mencapai swasembada beras berkelanjutan di awal 2026.
Keberhasilan ini kini diperkuat melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bentuk hilirisasi konsumsi hasil pertanian.
Ketua Bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan Majelis Nasional KAHMI, Laca Muhammad, menyatakan bahwa Program MBG bukan sekadar bantuan sosial, melainkan strategi untuk memastikan hasil panen petani terserap pasar.
“Saat ini, produksi beras nasional surplus 2,4 juta ton pada musim tanam pertama. Kelebihan tersebut dapat diserap secara efektif dengan adanya program MBG Presiden Prabowo,” ujar Laca.
Ia menambahkan, program ini memberikan kemudahan akses bagi petani lokal untuk menjual hasil buminya langsung ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terdekat. Hal ini diharapkan mampu memangkas rantai distribusi sekaligus menciptakan generasi yang lebih sehat melalui konsumsi pangan bergizi
Laca Muhammad menyebut bahwa MBG hadir dalam waktu yang tepat, karena surplus beras bisa diserap secara maksimal di dalam negeri, sehingga petani menjadi lebih sejahtera.
Seperti yang dialami oleh pak Sumarno seorang petani padi dari bojonegoro jawa timur, setelah menandatangani kontrak kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Bojonegoro, memiliki kepastian pasar untuk 1,5 ton beras per bulan dengan harga yang stabil di atas HPP (Harga Pembelian Pemerintah). Pendapatan bersihnya meningkat sebesar 22%.
Terciptanya Lapangan Kerja
Adanya program MBG juga menyerap banyak sekali tenaga kerja dan mempunyai dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar. Terhitung per april 2026 trdapat 25 tibu SPPG yang sudah ber operasi.

4 hours ago
3





















































