Dari Monroe ke Asta Cita

10 hours ago 8

Oleh: Laurens Ikinia - Peneliti di Institute of Pacific Studies dan Dosen Hubungan Internasional UKI Jakarta. Foto: Source for JPNN.com

Dari Monroe ke Asta Cita

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Peneliti di Institute of Pacific Studies dan Dosen Hubungan Internasional UKI Jakarta Laurens Ikinia. Foto: Source for JPNN.com

jpnn.com - Lebih dari satu abad sejak pertama kali dicanangkan, Doktrin Monroe terus menghantui sebagian belahan bumi.

Dalam bentuknya yang paling klasik, doktrin ini adalah pernyataan tegas Amerika Serikat bahwa Amerika Latin adalah wilayah eksklusif pengaruhnya, tertutup bagi intervensi kekuatan Eropa.

Kini, di bawah kepemimpinan yang agresif, doktrin tersebut menjelma menjadi "Donroe"—sebuah varian yang tidak lagi berusaha menyembunyikan nafsu neokolonialnya.

Amerika Latin, dengan segala kekayaan alam dan manusianya, diperlakukan bukan sebagai mitra, melainkan sebagai halaman belakang yang wajib tunduk dan siap dieksploitasi.

Revolusi Kuba tahun 1959 menjadi titik balik yang mengguncang fondasi pola pikir tersebut. Ini adalah pertamakalinya setelah sekian lama, sebuah tantangan radikal muncul di ambang pintu Amerika Serikat.

Kisahnya berbeda dengan intervensi di Guatemala atau Iran pada dekade 1950-an yang berhasil menggagalkan demokrasi.

Para pejuang gerilya Kuba, yang berhasil menggulingkan kediktatoran Batista, terbukti jauh lebih tangguh.

Hingga 67 tahun berlalu, Amerika Serikat masih belum berhasil sepenuhnya menundukkan pulau revolusioner itu, meskipun blokade ekonomi dan upaya subversi terus berlanjut.

Dalam konteks hubungan luar negeri, Asta Cita secara implisit menuntut Indonesia untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan aktor yang aktif.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
Koran JPP|