jpnn.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi bergerak melemah 51 poin atau 0,29 persen menjadi Rp 17.845 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.794 per USD.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah melemah pascameningkatnya prospek kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS yang masih kembali menguat oleh meningkatnya prospek kenaikan suku bunga The Fed pasca Federal Open Market Committee (FOMC),” ujar Lukman di Jakarta, Jumat.
Dia menerangkan prospek tersebut muncul karena inflasi AS saat ini berada di angka 4,2 persen, masih jauh di atas target The Fed sebesar 2 persen.
Mengutip Anadolu, Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan komitmen untuk mencapai target stabilitas harga 2 persen.
Ketika ditanya apakah The Fed dapat mempertimbangkan kembali target inflasi 2 persen, Warsh menyampaikan bahwa level tersebut tetapi menjadi tujuan jangka panjang bank sentral dan tak boleh ditinjau kembali sebelum The Fed kembali mampu mewujudkannya.
Selain itu, indeks dolar AS disebut mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun terakhir. Kekhawatiran apabila pasokan minyak mentah dunia masih belum akan pulih akibat perang turut mendukung dolar AS, kendati kesepakatan damai tahap pertama antara AS dengan Iran turut mendukung rupiah.
“Kesepakatan damai tahap pertama ini tentunya mendukung rupiah, tetapi untuk jangka pendek memang fluktuasi seperti ini terjadi, investor masih memberikan perhatian pada prospek suku bunga The Fed,” kata Lukman.

1 day ago
4






































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5364450/original/049240400_1759113678-allano.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518117/original/054027000_1772464500-rivera.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307861/original/026520700_1754487526-WhatsApp_Image_2025-08-06_at_20.27.15.jpeg)




