jpnn.com, JAKARTA - Tekanan biaya hidup yang terus meningkat membuat kemampuan mengelola keuangan menjadi makin penting bagi generasi muda. Apalagi, lebih dari 66 persen anak muda disebut menghadapi kesulitan finansial akibat kenaikan biaya hidup dan stagnasi upah.
Tanpa perencanaan keuangan sejak dini, generasi muda juga berisiko menjadi sandwich generation, yakni harus menanggung kebutuhan diri sendiri sekaligus keluarga dari generasi di atas maupun di bawah mereka.
Kondisi itu menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan literasi dan inklusi keuangan yang digelar Prudential Syariah bersama Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) bagi 700 mahasiswa Universitas Airlangga (Unair), Surabaya.
"Para mahasiswa mendapatkan edukasi mengenai perencanaan keuangan, manajemen risiko, hingga perlindungan finansial berbasis prinsip syariah," kata Chief Customer & Marketing Officer Prudential Syariah Vivin Arbianti Gautama dalam keterangannya, Jumat (14/8).
Literasi keuangan syariah dinilai masih menjadi pekerjaan rumah. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan syariah tercatat 43,07 persen, sedangkan tingkat inklusinya baru 13,24 persen.
"Angka tersebut masih berada di bawah indeks literasi keuangan nasional sebesar 69,57 persen dan inklusi 93,61 persen," ungkapnya.
Sementara itu, pada kelompok usia 18–25 tahun yang identik dengan kalangan mahasiswa, tingkat literasi keuangan tercatat 73,32 persen dengan inklusi mencapai 95,69 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa anak muda sudah cukup akrab dengan berbagai layanan keuangan, tetapi pemahaman mengenai prinsip keuangan syariah masih perlu diperkuat.

2 weeks ago
6












































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5565946/original/060695200_1777098813-lemos.jpg)








