jpnn.com, JAKARTA - Perkembangan artificial intelligence (AI) kini makin mempercepat transformasi digital di berbagai sektor industri, mulai dari peningkatan efisiensi operasional, hingga pengambilan keputusan berbasis data.
Namun, di balik percepatan tersebut, adopsi AI memaksa perusahaan untuk mengelola infrastruktur IT yang makin kompleks, sehingga memperbesar potensi risiko keamanan.
Kondisi infrastruktur yang makin rumit ini disebabkan meningkatnya volume data serta makin luasnya konektivitas antarlingkungan teknologi informasi.
Indonesia Country Manager Synology Inc., Clara Hsu mengingatkan perusahaan sering kali hanya berfokus pada sisi manfaat, tanpa menyadari pelaku kejahatan serta memutakhirkan metode mereka.
“Banyak perusahaan fokus memanfaatkan AI untuk efisiensi, tetapi lupa bahwa teknologi yang sama juga digunakan oleh hacker. Pertanyaannya bukan lagi apakah akan diserang, tetapi kapan,” ujar Clara Hsu di kawqsan Setiabudi, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
AI kini tidak lagi dipandang sebagai teknologi eksperimental, melainkan telah menjadi fondasi dalam mendorong akselerasi digital perusahaan melalui investasi global yang terus meningkat.
Sayangnya, teknologi ini juga membuka peluang baru bagi pelaku kejahatan siber untuk mengotomatisasi proses serangan, mulai dari pemindaian sistem hingga penyusunan strategi.
Menurut Clara, keterlibatan AI dalam aksi kriminal membuat pola serangan menjadi jauh lebih berbahaya dibandingkan masa lalu.

10 hours ago
6







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449566/original/006494000_1766070807-000_88JW69R.jpg)













