jpnn.com, BEIRUT - Personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) gugur dalam tugas.
Anggota pasukan penjaga perdamaian itu meninggal dunia karena sebuah proyetil meledak di dekatnya di sebuah desa bernama Adchit al-Qusayr, bagian selatan Lebanon, Minggu (29/3/2026).
Ledakan itu juga menyebabkan personel lain di bawah UNIFIL mengalami luka serius. “Tidak seorang pun boleh kehilangan nyawa dalam melayani tujuan perdamaian,” demikian pernyataan UNIFIL melalui akunnya di X, Senin (30/3/2026).
Ledakan itu diduga berasal dari senjata Israel yang mengincar Hizbullah sebagai penguasa wilayah Lebanon bagian selatan. Namun, UNIFIL belum bisa memastikannya.
“Kami tidak mengetahui asal-usul proyektil itu. Kami telah melakukan penyelidikan untuk menentukan semua fakta,” imbuh UNIFIL.
Sekjen PBB Antonio Guterres pun meradang mendengar kabar itu. "Saya mengecam keras insiden pada Minggu di mana seorang penjaga perdamaian asal Indonesia di UNIFIL terbunuh di tengah permusuhan antara Israel dan Hizbullah," ujarnya melalui media sosial.
Menurut Guterres, personel lain yang terluka serius pada insiden itu juga anggota TNI. Diplomat asal Portugis itu pun menyampaikan dukacita untuk Indonesia, terutama keluarga korban, sekaligus mendoakan personel TNI yang terluka segera puluh.
Selain itu, Guterres juga meminta pihak-pihak yang brtikai bisa mengendalikan diri. "Saya menyerukan semua pihak untuk memenuhi kewajiban mereka di bawah hukum internasional serta memastikan keselamatan personel dan properti PBB setiap saat," katanya.
PBB menempatkan UNIFIL di Lebanon bagian selatan untuk memonitor garis demarkasi yang rawan konflik antara Israel dengan Hizbullah. Misi pasukan perdamian itu akan berakhir pada akhir tahun ini.
Akhir-akhir ini, UNIFIL kerap menjadi sasaran. Pada 6 Maret lalu, pasukan UNIFIL dari Ghana juga menjadi sasaran tembak yang menyebabkan dua orang terluka.

2 hours ago
2





















































