jpnn.com, JAKARTA - Pernyataan "You must trust the Giant", yang mencuat dalam persidangan kasus korupsi Chromebook, menjadi simbol betapa ambisinya kebijakan digitalisasi di era Nadiem Makarim seringkali menutup mata terhadap realitas sosiologis pendidikan di Indonesia.
Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menilai, pemaksaan ekosistem digital ini telah menciptakan jurang diskriminasi yang semakin lebar bagi para pendidik di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Kepala Bidang Advokasi Guru P2G, Iman Zanatul Haeri, menyebut kebijakan ini sebagai bentuk pengabaian terhadap hak-hak dasar siswa dan guru di daerah terpencil.
Saat pusat sibuk membicarakan cloud computing, guru-guru di pelosok masih harus bertarung dengan ketiadaan listrik dan sinyal internet.
Iman memaparkan fakta memilukan yang dihimpun P2G dari berbagai daerah. Salah satu investigasi menunjukkan guru di Tolikara, Papua, harus merogoh kocek pribadi hingga Rp 500.000 hanya untuk menyewa ojek menuju titik sinyal demi mengisi aplikasi kinerja.
Fenomena serupa terjadi di NTT, di mana para guru terpaksa mengajar di kandang kambing demi mendapatkan koneksi internet agar Chromebook yang dibagikan bisa berfungsi.
"Negara harusnya membantu kami dengan teknologi, bukan kami yang berkorban nyawa dan materi demi menghidupkan teknologi yang Anda paksakan," ujar Iman seperti dikutip dari kanal Podcast Jaksapedia.
Ia menambahkan bahwa klaim keberhasilan digitalisasi selama ini bersifat semu dan hanya indah di atas kertas laporan, sementara di lapangan, guru-guru merasa "berdarah-darah" untuk memenuhi standar administrasi digital yang kaku.

5 hours ago
4



















































