jpnn.com, JAKARTA - Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty menilai dampak pelemahan rupiah bakal tercermin pada hasil perhitungan inflasi bulan Mei ini.
Hal ini dikarenakan nilai tukar rupiah yang terus mengalami pelemahan oleh dolar Amerika Serikat (AS).
“Imported inflation akibat pelemahan rupiah dapat mulai dirasakan di Mei. Kelompok pengeluaran yang paling terdampak adalah yang terkait dengan komponen tinggi impor,” kata Telisa Aulia Falianty di Jakarta, Senin (18/5).
Dia mengaku komoditas yang berpotensi menjadi yang paling terdampak oleh imported inflation tersebut antara lain obat-obatan, elektronik, otomotif, petrokimia, gandum, peralatan berat, hingga telekomunikasi.
Dia menuturkan, tanda-tanda akan adanya pengaruh dari pelemahan rupiah terhadap inflasi nasional sebenarnya sudah terlihat dalam beberapa bulan terakhir, yakni melalui tren peningkatan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB).
Rupiah tercatat terus melemah sejak awal tahun dan kini nilainya sudah menurun 5,99 persen terhadap dolar AS dalam tahun kalender (year-to-date/ytd).
Kemudian, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa IHPB terus mengalami kenaikan setiap bulan, yakni dari 106,00 pada Januari 2026 menjadi 109,07 pada April 2026.
Angka pada April lalu menunjukkan kenaikan IHPB sebesar 3,81 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

3 hours ago
2





















































